(Tidak) Menjadi Manusia Pemalas

image

 

Siapa yang tidak pernah mendengar seorang hebat sekaliber Abdurrahman Bin Auf, salah satu sahabat Nabi yang utama yang memberikan kontribusi maksimalnya pada perkembangan dakwah islam pada masa itu.


Mari sama-sama kita tengok salah satu epik bagaimana kemudian Sahabat Abdurrahman Bin Auf mengajarkan kepada kita tentang arti malas dan kemalasan yang sesungguhnya.


**********


Ketika perintah hijrah ke Kota Yatsrib dari Kota Mekkah diturunkan kepada Nabi Yang Mulia, maka serentak berbondong-bondong para sahabat menyambutnya dengan melakukan hijrah dimaksud.


Para sahabat baik yang memiliki kelebihan harta maupun yang hidup pas-pasan bahkan kurang tidak terlepas dari kewajiban hijrah itu, termasuk diantaranya adalah Abdurrahman Bin Auf seorang sahabat yang tergolong kaya dan dikenal sebagai saudagar besar.


Namun apa nyana, ketika perintah hijrah itu turun, Abdurrahman Bin Auf dan sebagian besar sahabat harus rela meninggalkan rumah dan harta yang dimilikinya di Kota Mekkah. Mereka hanya membawa harta seadanya menuju Kota Yatsrib yang diberkahi.


Sahabat Anshar yang dipersaudarakan kepada Abdurrahman Bin Auf sangat mengerti keadaan saudara barunya itu sehingga menawarkan kepada Abdurrahman Bib Auf rumah untuk ditinggalinya, sebagian hartanya untuk diusahakan dan istrinya selepas masa iddahnya.


Ditawarkan fasilitas yang demikian menggiurkan dalam kondisi sempit, maka sangat wajar jikalau Abdurrahman Bin Auf menerimanya barang sedikit fasilitas itu sebagai modal awal membangun kembali kekayaannya.


Namun orang hebat ini menolak dengan halus tawaran sahabat barunya dari kaum Anshar itu seraya bertanya dengan penuh keyakinan:


"Tolong tunjukkan kepadaku dimana letak pasar Kota Yatsrib..."


Benar saja.... tidak lebih dari tiga bulan Beliau RA membuktikan keyakinannya dengan keberhasilan menaikkan kembali taraf hidupnya menjadi seorang kaya kembali, dari tidak berpunya menjadi berlebih harta, from zero to hero.


Beliau RA mendatangi Nabi yang mulia dan minta dinikahkan dengan maskawinnya berupa emas sebesar kurma dan sekitar 450 ekor unta dari jenisnya yang terbaik.


Demikianlah sahabat Abdurrahman Bin Auf menjawab himpitan ekonomi ditengah fasilitas yang menggiurkan dengan bekerja dan berusaha, abai terhadap fasilitas yang ada dan yakin akan kemampuannya sendiri.


Masihkah kemudian kita malas saat ini untuk bekerja dan berusaha meningkatkan taraf hidup kita walaupun dengan fasilitas minim??


Jawaban itu ada dalam benak dan tindakan kita masing-masing untuk menolak ataupun mengiyakannya...

 


Salam Semangat, 
@ludwinardi | WA 0888 0831 6579
http://ludwinardi.com

 

#Ilustrasi: raptureready.com-


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari