The Giving Leader | Pelajaran Dari @yuswohady

image

Ada tiga momen menyentuh yang membuat hati saya bergetar kemarin siang (7/9). Ceritanya, kemarin saya bersama teman-teman Komunitas Memberi (@memberiID) menggelar sesi sharing di kantor pusat JNE, Tomang. Sesi sharing yang mengambil topik Building a Giving Company ini menampilkan dua entrepreneur hebat. Yang pertama adalah pak Johari Zein, CEO dan pendiri JNE. Kedua mas Karman, pendiri sidjibatik asal Bantul Yogyakarta.

 

Indonesia Raya
Momen menyentuh yang pertama adalah saat lagu Indonesia Raya dinyanyikan secara khidmat oleh seluruh peserta di pembuka acara. Tak tahu kenapa, tatkala bangsa ini mulai luntur identitas nasionalnya akibat terjangan bertubi-tubi tsunami globalisasi, bait demi bait Indonesia Raya justru kian menjadi oasis yang menyejukkan nurani di tengah kegersangan ke-Indonesiaan kita.

 

Tak tahu kenapa, tatkala raksasa-raksasa multinasional begitu membabi-buta mengeksploitasi tiap jengkal potensi bangsa ini (pasar yang luar biasa besar, kekayaan alam yang luar biasa melimpah, kearifan budaya lokal yang adiluhung) syair demi syair Indonesia Raya justru kian ampuh menggetarkan rasa nasonalisme dan kecintaan kita pada Indonesia.

Dan tak tahu kenapa, tatkala para pemimpin politik, anggota DPR, pejabat pemerintah, pebisnis kian ganas mengkorupsi uang negara, senandung Indonesia Raya justru punya makna yang kian dalam. Berbeda dengan saat SD dan SMP dulu, tiap Senin pagi saya rutin harus menyanyikan lagu ini saat upacara bendera.

 

Saluran Berkah
Momen menyentuh kedua adalah saat pak HM. Johari Zein, berbagi kiat dan filosofi bisnis yang ia jalankan selama merintis dan membesarkan JNE. Kenapa menyentuh? Karena pendekatan  bisnis yang ia jalankan sarat dengan kearifan untuk selalu memberikepada sesama.

 

Pak Johari percaya bahwa salah satu misi dasar dari perusahaan adalah untuk menjadi saluran berkah dan kemanfaatan bagi banyak orang. Karena itu keyakinan dasar yang ia pegang dalam mengelola JNE adalah keikhlasan untuk selalu memberi: memberi kepada konsumen, memberi kepada karyawan, memberi kepada negara, bahkan memberi kepada umat manusia. Tak hanya itu, pak Johari juga percaya 1000% bahwa “memberi itu menerima” (giving is receiving). Semakin banyak kita memberi, semakin banyak pula kita mendapatkan limpahan rahmat dari Tuhan. Kuncinya adalah keikhlasan dan hati yang bening.

 

Pak Johari memberikan contoh pada saat Indonesa diterjang krisis ekonomi tahun 1998. Pada saat itu pak Johari prihatin dengan begitu banyaknya masyarakat yang kehilangan pekerjaan karena terkena PHK. Karena itu, dengan semangat keikhlasan memberi ia menciptakan sebuah program membantu mereka dengan memberikan modal, perlengkapan, dan bimbingan agar mereka bisa menjadi mitra JNE. Tujuannya mulia agar mereka terlepas dari himpitan krisis dan bisa mandiri secara ekonomi.

 

Program ini rupanya sukses luar biasa, banyak orang yang terbantu oleh program ini. Tak hanya itu, inisiatif ini kemudian dikembangkan lebih lanjut menjadi program partnership antar JNE dengan para korban krisis tersebut. Dan tanpa disangka, program ini kemudian menjadi cikal bakal terbentuknya sistem franchise dalam industri pengiriman di Indonesia. Harap diketahui, sistem franchise dalam pengembangan channel di industri pengiriman ini merupakan breakthrough innovation yang menghasilkan pertumbuhan bisnis yang luar biasa bagi JNE selama sepuluh tahun terakhir.

 

Hikmah dari peristiwa ini sangat jelas, yaitu bahwa keikhlasan memberi akan menghasilkan berkah berkelimpahan dari Tuhan. The more you give, the more you get.

 

Sedekah
Momen menyentuh ketiga adalah saat mas Karman menjelaskan keyakinan-keyakinan bisnis yang ia pegang teguh dalam menjalankan sidjibatik. Konsep batik bikinan mas Karman luar biasa unik, disebut dengan “unlimited edition concept” yaitu satu motif untuk satu kain. Jadi tidak dicetak massal dan proses pembuatannya mengacu pada proses asli pembuatan batik yang adiluhung. Motif-motif yang ia kembangkan selalu cerah dan unconventional. Dengan konsep semacam ini produk batik mas Karman telah melanglang buana ke berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, Qatar, hingga Amerika Serikat.

 

Konsep batik mas Karman memang breakthrough, namun yang membuat saya tersentuh justru bukan itu, tapi spirit of giving yang melandasi setiap langkah bisnisnya. Di samping mengembangkan sidjibatik, mas Karman juga mengembangkan gerakan yang disebut#sedekahrombongan bersama mas Saptuari Sugiharto di Yogyakarta. Melalui medium blog #sedekahrombongan menghimpun sedekah dari siapapun untuk disalurkan kepada kaum duafa. Mereka lebih senang menyebutnya sebagai “sedekah jalanan”. Bunyi tagline-nya keren: “Menyampaikan titipan dari langit tanpa rumit, sulit, dan berbelit-belit.”

 

Seperti halnya pak Johari, mas Karman membangun bisnis sebagai saluran untuk memberikan manfaat ke banyak orang, terutama kaum duafa. Bagi mas Karman, berbisnis dan bersedekah  itu sama pentingnya. Karena itu cukup besar ia menyisihkan hasil penjualan batiknya untuk disalurkan ke kaum duafa melalui #sedekahrombongan. Sedekah itu dikumpulkan untuk membantu yatim-piatu, anak cacat, bayi terlantar, petani duafa, hingga janda-janda tua duafa.

 

Menarik sekali riwayat kenapa mas Karman begitu getol bersedekah. Ceritanya pada tahun 2011 ia diminta mas Saptuari untuk memberikan sedekah kepada para petani duafa di Imogiri. Ia pun menyanggupi. Dan sebuah keajaiban datang, setelah sedekah itu ia kemudian mendapat order batik hingga 700 helai. Sejak saat itu ia percaya pada ”the power of giving”. Seperti pak Johari, ia pun kemudian meyakini bahwa “giving is receiving”. Semakin banyak memberi, semakin banyak mendapatkan berkah berkelimpahan.

 

Dua sosok entrepreneur hebat di atas memiliki kesamaan pola dalam berbisnis. Mereka meyakini bahwa bisnis bisa menjadi medium ampuh untuk membawa kebaikan bagi banyak orang. Mereka juga meyakini bahwa tugas manusia sesungguhnya adalah memberi; mengenai kita akan mendapat apa, itu urusan Yang Di Atas. Kalau digambarkan dengan lemparan pendulum, maka tugas manusia hanyalah melempar pendulum. Mengenai kapan pendulum tersebut akan berayun balik, itu urusan Yang Di Atas. Terakhir, mereka juga percaya pada “keajaiban memberi”, bahwa semakin banyak kita memberi, maka semakin banyak pula kita akan mendapatkan.

 

Saya menyebut dua sosok hebat di atas sebagai, “the giving leaders”.

 

 

Salam Memberi...!!
@ludwinardi | BB 313FE116 | WA 0888 0831 6579
PH 0852 2614 9414 | http://ludwinardi.com


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors