Kehilangan Sensivitas | Nasihat @Jamilazzaini

image

 

Pernahkah Anda berbuat dosa atau kesalahan namun Anda tak merasa bersalah dan hati tak gelisah? Waspadalah, bila saat ini Anda mengalami kondisi seperti itu. Kata guru saya, orang yang semacam ini sudah kehilangan sensitivitas. Lebih parah lagi, sudah berbuat dosa tetapi merasa dirinya telah berbuat baik dan merasa dekat dengan-Nya.

 

Seorang kenalan saya pernah mengatakan, “Sistem kerja di tempat saya memang memungkinkan untuk korupsi. Kalau saya menolak akan merusak sistem dan saya dimusuhi teman-teman. Ya sudah, uang yang katanya kotor itu saya kumpulkan di satu rekening dan saya gunakan untuk mengumrohkan anak buah saya.” Ngeri, kan? Sudah jelas korupsi tapi merasa sholeh dan merasa baik hati.

 

Hilangnya sensitivitas ini membuat kita berlumur dosa namun kita tak merasa berdosa. Semakin lama, ia akan semakin terjerumus ke dalam keburukan yang semakin dalam tanpa ia sadari. Apa yang membuat sensitivitas menurun bahkan hilang dari diri seseorang? Menurut pengamatan saya, orang-orang yang kehilangan sensitivitas biasanya menggunakan pembenaran-pembenaran sebagai berikut.

 

Pertama, “Tidak apa-apa, kan darurat.” Kelompok ini menganggap apa yang dilakukannya darurat karena kondisinya tidak normal. Ia rela menggunakan uang haram karena menganggap susah mencari yang halal. Ia melakukan selingkuh karena kondisinya jauh dengan pasangan hidupnya dan tidak bisa setiap saat berjumpa. Mereka berdalih, “Ini kan darurat.”

 

Kedua, “Perasaan tidak enak.” Ada sekelompok orang yang kehilangan sensitivitas berawal dari perasaan tidak enak. Tidak enak kalau menolak, sebab yang mengajak atasan, orang yang dikagumi, klien kakap (besar) dan lain-lain. Bahkan ada yang pernah curhat kepada saya, ia “terpaksa” melakukan hubungan suami-istri karena merasa tidak enak menolak sebab yang mengajak berhubungan adalah pimpinannya.

 

Ketiga, “Tidak apa-apa, kan cuma sekali-kali.” Ternyata ada orang yang kehilangan sensitivitas berawal dari perasaan dirinya telah banyak berbuat kebaikan dan “merasa” boleh melakukan kesalahan karena hanya sekali-kali. Berawal dari sekali-kali kemudian berbuat berkali-kali. Akhirnya, orang ini benar-benar kehilangan sensitivitasnya.

 

Kehilangan sensitivitas adalah penyakit yang sangat berbahaya. Sebab, ada perasaan kita ini orang baik padahal kehidupnnya kotor dan melakukan banyak keburukan yang dibenci oleh Sang Maha. Segeralah bertemu dan bergaul dengan orang-orang yang tulus, beriman, berilmu dan sibuk melakukan kebaikan agar kita memiliki sensitivitas.

 

Lebih baik hidup kita gelisah karena kita tahu bahwa kita telah berbuat salah daripada hidup kita tenang padahal pada hakikatnya bergelimang dosa. Jangan sampai kita kehilangan sensitivitas dalam hidup yang singkat ini. Setuju?

 

 

Salam Semangat SuksesMulia!

@ludwinardi | BB 313FE116 | WA 0888 0831 6579
PH 0852 2614 9414 | http://ludwinardi.com

#Seperti dikutip dari jamilazzaini (dot) com Disini -->> klik 

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari
SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors