PMI: Berjuang Dalam Senyap Ditengah Cibiran

image

 

Waktu lalu saya berkesempatan melakukan donor darah, sebuah aktivitas yang pernah rutin saya lakukan namun karena satu dan lain hal saya tinggalkan dalam kurun waktu yang cukup lama, mungkin hampir mencapai setahun saya off berdonor. Jadi kira-kira kalau jadwalnya tiga bulan sekali berdonor, sesuai anjuran dokter ahli, maka saya melewatkan empat kali kesempatan berdonor.

 

Biasanya ketika berdonor saya keseringannya sekaligus mengistirahatkan badan saya dari aktivitas pekerjaan, bahkan tidak jarang sampai tertidur sehingga mendapat teguran petugas untuk segera bersadar diri dari dunia mimpi.

 

"bahaya pak..... bisa-bisa keterusan tidurnya Pak, gak bangun-bangun alias koit.."

 

Begitulah kira-kira jawaban standart petugas jika saya iseng bertanya kenapa tidak boleh tertidur bila sedang proses pendonoran darah.

 

Nah... kemarin itu menjadi sangat diluar kebiasaan saya selama ini, ketika sepanjang proses pendonoran itu saya tidak tertidur sama sekali. Jadilah momen kesempatan itu saya pergunakan ngobrol ngarol-ngidul bersama petugas/paramedik yang tampak muda namun sayangnya kita belum bekesempatan untuk saling berkenalan.

 

Topik yang membuat saya tertarik adalah tentunya informasi seputar donor darah ini.

 

Paramedik muda itu memulai bercerita tentang bagaimana Ia tergabung dalam paramedik PMI, pengalaman buruk masa lalulah yang mendorongnya menjadi paramedik PMI, bagaimana kemudian Ia kesulitan mencari darah AB yang dibutuhkan orang tuanya yang kemudian melecut rasa penasarannya dengan berkhidmat kepada PMI dengan menjadi paramedik.

 

Pemuda itu melanjutkan ceritanya tentang bagaimana terbatasnya pendanaan PMI, bagaimana pas-pasannya gaji yang diterimanya setiap bulan dari PMI dan bagaimana merasakan banyaknya cibiran masyarakat awam tentang mahalnya harga satu kantong darah yang dibutuhkan.

 

Saya, anda dan masyarakat awam mungkin berpikiran sama dan sama-sama mengeluhkan dan mencibir bagaimana kemudian mahalnya sebuah kantong darah yang diambil gratis dari para pendonor bukan?

 

Hey...

 

Ternyata semua pikiran dan cibiran itu adalah jauh panggang dari api, ya benar... dana yang kita keluarkan untuk menebus sekantong darah itu tidak lebih adalah sebagai biaya penggantian pengelolaan dan perawatan sekantong darah dengan standart internasional oleh PMI. Jadi tidak benar jika ada cibiran yang mengatakan bahwa PMI memperoleh keuntungan dari biaya penggantian kantong darah tersebut.

 

Lantas bagaimana kemudian dengan segala kegiatan operasional yang dilakukan oleh PMI? Seperti biaya gaji dokter, biaya gaji paramedik dan biaya lainnya, dari mana semua itu sumber pendanaannya?

 

Kawan pernah ngeh gak ketika kita beli tiket kereta api atau bis keseringannya kita seolah 'dipaksa' untuk membeli kupon sumbangan dari PMI..??

 

Yep... itulah salah satu cara PMI mendapatkan sumber pendanaan untuk biaya operasionalnya, selain itu mereka dalam kurun waktu tertentu mengadakan bulan amal dengan mendatangi donatur corporate yang potensial dan menyebarkan kupon-kupon sumbangan tadi ditambah dana bantuan dari pemerintah dalam porsi yang mungkin sangat minim. 

 

Pastinya akan sangat kurang dari yang seharusnya dibutuhkan, inilah yang menyebabkan berbedanya gaji dokter dan paramedik PMI antara satu kota dengan Kota lainnya, disesuaikan dengan kemampuan PMI dikota tertentu menghimpun dana.

 

Itulah pula mungkin sebabnya hanya segelintir orang yang memiliki hasrat bergabung menjadi paramedik PMI, seperti petugas paramedik yang saya ajak ngobrol diatas, atas dasar alasan tertentu itulah akhirnya ia bergabung menjadi paramedik PMI. Dan perjuangan mereka senyap dan sepi dari dunia pemberitaan, bahkan mereka berada ditengah pusaran cibiran dan masyarakat awam.

 

Salam Semangat Berbagi!!
@ludwinardi | PH/WA 0852 2614 9414 | http://ludwinardi.com

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari
SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors