Pertengkaran itu Indah

image

Mungkin akan pahit dan berat bilamana kita harus menyepakati statement tersebut dalam judul artikel ini bahwa 'Pertengkaran itu Indah', karena memang pada kenyataannya pertengkaran itu menyakitkan dan pertengkaran itu seperti jarum yang menusuk ulu hati, karena bisa jadi masalah yang menyulutnya kecil dan sepele namun terasa sungguh menyakitkan.

 

Tentunya kata 'Pertengkaran' ini adalah konflik dalam koridor kerumahtanggaan, perselisihan faham yang mungkin biasa terjadi antara suami dan istri dalam satu bahtera rumah tangga, apakah itu perselisihan yang disebabkan hal kecil nan sepele atau mungkin juga disebabkan karena permasalahannya yang cukup rumit.

 

Hal lumrah kiranya bila dikatakan bahwa kita sebagai manusia biasa tiada yang dapat menghindar dari adanya konflik pertengkaran dalam rumah tangga ini, hal tersebut seperti given yang satu paket dalam kerangka mahligai rumah tangga, siapapun pelakunya, karena seperti halnya sayur yang hambar tanpa garam begitupun cinta dalam rumah tangga tanpa adanya perselisihan.

 

Jangankan kita yang manusia biasa, seseorang sekelas rosul yang paripurna Nabi Muhammad SAW saja pernah melewati fase perselisihan didalam area privat rumah tangganya, fase suri tauladan dimana Sang Nabi harus memberikan pelajaran kepada istrinya dengan mendiamkan tidak mengajak bicara istrinya dalam bilangan hari.

 

Fase kisah nubuwah ini memberikan kita ilmu tentang cara bagaimana seorang suami mengontrol keadaan diluar yang merujuk kepada istrinya, bagaimana kemudian kontrol itu tidak terlalu keras sehingga dapat mematahkannya dan juga bagaimana kemudian kontrol itu tidak terlalu lemah sehingga membuatnya terlenakan.

 

Para sahabat nabi, dalam kesempatan berbeda, memberi contoh lain lagi dalam menghadapi adanya perselesihan paham dengan pasangannya.

 

Adalah salah satu sahabat utama Ali bin Abi Tholib yang sampai-sampai mendapatkan gelar Abu Turab (bapaknya tanah) dari Nabi SAW, karena telah berhasil melewati fase perselisihan dalam rumah tangganya dengan Fatimah yang notabene adalah anak Sang Nabi SAW.

 

Perselisihan Ali bin Abi Tholib dengan istrinya Fatimah ini memberikan pelajaran kepada kita bagaimana seharusnya mengelola amarah yang muncul dari dalam diri kita, dapat kita bayangkan seperti apa amarah yang muncul dari seorang ksatria yang begitu disegani dan ditakuti oleh musuh-musuh Islam ini namun sahabat mulia ini mampu mengelolanya sehingga tidak berdampak panjang, lantas apa yang dilakukan oleh beliau sahabat Ali bin Abi Tholib ini?

 

Ketika perselisihan faham terjadi dalam rumah tangganya, Ali bin Abi Tholib merasakan betapa hebatnya amarah melingkupi hati dan pikirannya, namun sahabat mulia tersebut dapat mengelola amarahnya sesuai tuntunan sunnah rosul tercintanya.

 

Ya.....

 

Beliau mengaplikasikan amalan sunnah yang dianjurkan Sang Rosul untuk meredam amarahnya dengan berbaring, namun berbaringnya Ali tidak di atas tempat tidur atau permadani apalagi di atas lantai rumahnya, sahabat Ali bin Abi Tholib berbaring diatas pasir dingin diluar rumahnya dengan beratapkan langit, sampai akhirnya Yang Mulia Rosulillah menghampiri Ali dan mengajaknya masuk kedalam rumah seraya berucap lembut kepadanya dengan sebutan "Ya Abu Turab".

 

Begitulah hikmah siroh nubuwah yang mulia ini mengajarkan kepada bagaimana kita seharusnya dalam menghadapi perselisihan didalam rumah tangga kita, sudahkah kita mengambil itu semua sebagai pelajaran??

 

 

-------------------
Salam Semangat,
@ludwinardi | WA/PH 0852 2614 9414 
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: internet

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+6+2

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors