Ayah Juga Begitukan??

image


Dalam artikel saya terdahulu (Kucing Tak Bertuan) pernah bercerita tentang bagaimana rumah kita kedatangan kucing lucu tapi misterius yang tak bertuan yang tiba-tiba muncul diteras rumah kami (linknya -->> disini).

 

Walaupun pada awalnya tidak direncanakan ditampilkan secara berseri, hanya spontanitas saja, artikel cerita berikut adalah kisah kelanjutannya.

 

Selamat menikmati...

 

Selang waktu paska diputuskan memelihara kucing tak bertuan tersebut, setiap selesai waktu makan (utamanya pagi dan malam) muncul rutinitas ritual baru yang melibatkan ketiga pasukan cilik kami dirumah. Mereka bertiga berebutan memberi makan si kucing dari sisa-sisa makanannya singmasing.

 

Sampai satu waktu tampak si kucing mulai berulah dengan bisingnya ngeongan dan berteriak-teriak sambil seperti bermain kejar-kejaran sesama teman seperkucingannya. Sungguh bising, riuh dan ramai kondisi diteras rumah kami waktu itu, tampak si kucing dikejar kesana kemari oleh kucing lainnya.

 

"Si kucing itu kenapa sih yah??"

 

Pertanyaan itu yang kerap ditanyakan nakanak ketika melihat perubahan perilaku si kucing yang berubah tidak bersahabat itu, bising dengan ngeongan dan berkejaran kesana kemari.

 

Sebagai yang berpengalaman dalam kehidupan *uhuk*, tentunya saya cukup mengerti sebab musabab perubahan perilaku si kucing yang tampak menjadi liar tersebut.

 

Yep... botul...botul...botul...

 

Kelakuan yang tiba-tiba berubah itu merupakan pertanda si kucing memasuki fase perkawinan diantara mereka, satu hal yang belum difahami secara mendalam oleh nakanak.

 

Malam itupun menjadi begitu panjang bagi saya dan anak-anak untuk menjelaskan dan membedah fenomena perkawinan kucing yang aneh menurut pandangan kacamata nakanak tersebut.

 

"Kenapa sih yah...???"
"Kok gitu sih yah...???"
"Ngapain sih yah...???"

 

Begitulah kira-kira serentetan pertanyaan penuh keheranan dan keingintahuan anak-anak seolah menyerang saya tanpa titik koma.

 

Dan menjadi kewajiban sayalah sebagai orang tua yang bertanggung jawab *ehem*, untuk menjelaskan fenomena alam yang ada disekitar rumah kita tersebut kepada anak-anak yang menghinggapi si kucing dengan perubahan perilakunya yang aneh itu.

 

Karena 'klien' saya kali itu adalah anak-anak seumuran 8 dan 9 tahun serta seorang balita yang masih cadel namun seperti sok mengerti, maka dalam penjelasannya saya banyak menggunakan penyamaan-penyamaan semisal kita manusia yang melakukan perkawinan itu dan seterusnya dan seterusnya.

 

Namun penjelasan sok bijak saya berubah menjadi ketercekatan ketika sampai pada pertanyaan anak kedua saya yang memang memiliki rasa keingintahuan lebih besar dari saudara-saudaranya:

 

"Tadi pagi abang sebelum berangkat sekolah melihat si kucing itu kejar-kejaran yah.." Si Abang memulai pertanyaannya dengan sebuah informasi.

 

"Terus... didepan teras rumah kosong itu si kucing masak digigit-gigitin dan ditindihin sama temen kucingnya yang gede itu sih yah.." saya terus menyimak dengan seksama informasi yang disampaikan si abang dan mencoba menerka arah informasi ini selanjutnya.

 

"Berarti Ayah sama Ummi waktu perkawinan dulu juga begitu kan yah, gigit-gigitan sama tindi-tindihan??"

 

*jleebb*

 

Sebuah pertanyaan pamungkas yang menohok dan mencekat sesaat di lidah saya sebelum kembali menjelaskan ihwal perkawinan kucing tersebut, karena sudah kadung menyamakannya dengan perkawinan yang dilakukan oleh manusia.

 

 

----
Salam Semangat!!
@ludwinardi | WA/PH 0852 2614 9414
http://ludwinardi.com

 

Ilustrasi: Internet


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+9+0