Antara Ikhtiar; Kerja Keras dan Takdir

image


Wajah seorang ibu yang sudah tampak tidak muda itu terlihat kebingungan dan pada raut mukanya tampak jelas seperti  terbalut dalam kecemasan yang tidak biasa.

 

Panik...
Bingung...
Cemas...
Lapar dan haus...

 

Seperti membaur tak bersekat dalam bathin wanita mulia beranak satu itu...

 

Namun rasa haus yang sudah mengering dalam tenggorokannya itu sudah tak lagi dirasa olehnya, fokus perhatiannya sudah tidak lagi pada dirinya namun pada kondisi anaknya yang masih seusia bayi yang tergeletak didepannya. Anak bayi itu menangis dan meronta sekencang-kencangnya karena panas dan haus dahaga yang dirasa.

 

Setinggi-tingginya iman dan ketakwaan seorang wanita, adalah sangat manusiawi ketika dalam kondisi sendiri di sebuah padang pasir ditengah raungan tangis anaknya yang haus mencekat tenggorokan, wanita itu kebingungan dan sangat cemas.

 

Dan dengan sentiasa selalu memelihara prasangka baik terhadap ketetapan dan keadaan, mulailah ia berlari untuk ikhtiar mencari setetes air guna menghilangkan dahaga yang melanda kerongkongan anak dan dirinya.

 

Ikhtiar yang dilakukannya adalah maksimal, usahanya adalah sangat keras dilakukan dalam mencari air sebagai obat penghilang dahaga itu. Ia berlari dari bukit satu kebukit lainnya, dan begitu terus berulang sampai berbilang tujuh. Kadang larinya terhenti sesaat demi menilik anaknya yang menangis dan meronta sedemikian hebat sampai kakinya menghentak bumi dimana si anak berbaring.

 

Sampai sekonyong-konyong lelari kecilnya diantara dua bukit itu terhenti ketika lamat-lamat tampak dari kejauhan bahwa disekitaran kaki anak bayinya keluar zat seumpama air yang semakin lama menderas bak mata air yang mengalir.

 

Dan semakin Ia mendekati pembaringan bayinya semakin jelas dan yakin bahwa zat itulah yang selama ini dengan keras dicarinya guna mengobati rasa haus dahaganya.

 

Obat itu tidak didapatinya diantara dua bukit yang berkali disambanginya.

 

Obat dahaga itu ditemukannya dipembaringan anak bayinya persis dilokasi si bayi menghentakkan kakinya ke tanah. Rasa bahagia yang mencurah menghilangkan letihnya jauh dibelakang akibat ikhtiar kerja kerasnya berlari diantara dua bukit secara berulang, tiada penyesalan didalamnya selain rasa syukur karena diselamatkan dari arah yang sama sekali tidak pernah diduganya.

 

Mentemen...

 

Sepertinya tiada pernah habisnya kisah penuh hikmah dari wanita mulia semisal Bunda Siti Hajar diatas untuk kita gali dan gali kembali mutiara pelajaran kisahnya.

 

Yaa... kisah diatas adalah pentamsilan bagaimana ikhtiar; kerja keras dan hasil yang merupakan sebuah takdir-Nya terkadang tidak berjalan beriringan dan beririsan disatu titik yang lurus. Dan bagaimana kemudian memposisikan sikap kita atas ekspetasi yang yang jauh panggang dari api tersebut yang kuncinya ada terletak pada dua kata, yaitu 'syukur' dan 'sabar' atas hal yang telah menjadi ketetapannya tanpa syarat.

 

Semoga saya dan kita semua dapat memposisikan masing-masing kita seperti halnya posisi Bunda Situ Hajar diatas... semoga.

 

----
Salam Semangat!!
@ludwinardi | WA/HP 085226149414
http://ludwinardi.com

 

#Ilustrasi: internet

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 0+8+8

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors