Pelayanan Yang Peduli

image

 

Sebagai salah satu anggota bagian kuadran pegawai yang merupakan kelompok dominan dimasyarakat kita hari ini, kening saya dibuat sedikit berkerut ketika membaca kutipan seorang Hermawan Kertajaya yang adalah salah seorang pakar dalam dunia marketing.

 

Di era New Wave Marketing, layanan tidaklah mencukupi, layanan harus bisa bertransformasi menjadi care alias peduli. Care di sini berarti menempatkan pelanggan sebagai sahabat, bukan lagi memposisikannya sebagai raja yang layak dijilat atau objek yang bisa dibombardir dengan iklan. Kurang lebih begitulah teori yang ditawarkan Hermawan Kertajaya.

 

Seperti apa kiranya maksud teori tersebut?

 

Seiring dengan waktu, belakangan pemahaman saya tercerahkan ketika mendapatkan pengalaman yang menurut saya merupakan wujud nyata yang aplikatif dari teori tersebut.

----

Kebetulan keluarga kami berlangganan gas elpiji kepada pengusaha keturunan yang membuka toko kelontongnya didekat rumah kami. Setiap bulannya kami rutin mengambil barang kepadanya, baik dengan pelayanan antar jemput dari si engkoh, maupun saya sendiri yang membelinya langsung ke tokonya.

 

Awalnya transaksi-transaksi yang terjadi adalah karena hubungan antar sesama warga kompleks sebagai wujud hubungan sosial diantara kami, namun kemudian  kesan saya berbeda terhadap pelayanan yang diberikan setelahnya.

 

Yang berkesan adalah bukan pelayanan antar jemput atau hal lain semisalnya yang mungkin saat ini jamak dan standart diberikan oleh setiap pengusaha kepada konsumennya sebagai bagian dari pelayanan, tetapi ada waktunya ketika beberapa kali regulator gas kami bermasalah karena tidak dapat menyulutkan api gasnya, si engkoh ini dengan sigap dan meyakinkan membantu kami mencarikan solusinya.

 

Pernah suatu kali dipagi hari yang sibuk, si engkoh dengan sukarelanya menghabiskan waktu berharganya beberapa lama untuk ngulik-ngulik regulator yang bermasalah tersebut sampai dengan kompor gas kami dapat menyulutkan apinya.

 

Dilain kesempatan karena dirasa mungkin sudah keseringan, masih dengan senyuman kerelaannya, si engkoh menawarkan untuk menggantikan sementara regulator kami dengan kepunyaannya sementara regulator kami diupayakan diperbaiki olehnya.

 

Dan luar biasanya setelah siap diperbaiki dan kembali normal, si engkoh dengan enteng dan masih dengan senyumnya menolak dengan halus uang pemberian kami sebagai tanda terima kasih atas jasa servis regulatornya.

 

Momentum-momentum seperti itulah yang kemudian membuat kami sebagai konsumennya menjadi nyaman dan serasa diperhatikan sehingga secara tidak langsung semakin menguatkan untuk terus berlangganan kepadanya walaupun persaingan semakin sengit dan sudah pada level persaingan harga.

 

Dalam kesempatan waktu yang berbeda, pernah ada waktunya juga ketika kami membutuhkan tabung gas ternyata stok tabung gas si engkoh habis, namun (lagi) dengan senyum kerelaannya, si engkoh merekomendasikan warung kelontong lain yang berdekatan dengannya yang saya tahu warung tersebut menetapkan harga yang sedikit lebih murah dari si engkoh.

 

Baik sekali bukan apa yang dilakukan si engkoh dengan menerapkan pelayanan yang peduli yang saya pikir dapat juga diterapkan pada setiap level usaha yang terkait lansung dengan konsumen sebagai usernya.

 

Sudahkah kita memberikan pelayanan yang peduli kepada konsumen kita tanpa mengharapkan imbal balik sebagai keuntungan kita??

 

Yuk sama-sama introspeksi...

 

 

-----
Salam Semangat!!
@ludwinardi | WA/HP 085226149414
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: internet

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+0+9

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors