Telur Dadar

image

Seperti biasanya di satu hari dalam seminggu, dengan berpayung terik mentari siang, lelaki beranak tiga di usia menapaki puberitas keduanya itu beranjak pergi menuju kerumah orang tuanya yang hanya berjarak dua atau tiga lampu merah dari tempatnya beraktivitas. Suatu aktivitas rutin yang selalu disyukuri ditengah himpitan masalah dan godaan keberhasilan hidupnya.

 

Setibanya di muka pintu tujuannya, lelaki itu disambut hangat wajah wanita sepuh yang telah menjadi Eyang bagi ketujuh cucu-cucunya. Wajah lelaki yang semula tampak letih dimakan perjalanan drastis berubah sumringah demi memandang teduhnya wajah seorang Ibu tua itu.

 

Setelah mempersilahkan si lelaki masuk, mulailah Ibu itu sibuk didapur mempersiapkan jamuan siang ala kadarnya bagi tamu yang bertalian darah yang hadir dimuka rumahnya.

 

'Gak usah menyiapkan macam-macam Bu...'

 

Ujar lelaki itu sambil melirik wajan penggorengan yang ternyata berisi telur dadar yang baru saja digoreng yang tampak besar mengembang itu.

 

Tak lama, diantarnya telur dadar yang sudah matang itu ke meja makan dimana lelaki itu duduk selepas ia bebersih dan menunaikan sholat wajibnya. Telur dadar yang sekarang nampak lebih kecil menyusut itu tersaji dalam piring berhias lurik bunga merona.

 

'Hanya telur dadar goreng saja kok le...'

 

Wanita tua itu memberikan kata pengantar atas sajian sederhananya.

 

Sambil memulai santapan siangnya yang sederhana, lelaki itu menghela nafas dan menampakkan raut muka yang berbeda dari sebelumnya...

 

'Ahhhh..... kenapa ya Bu.... segala mimpi dan harapan-harapan hidupku belum juga tampak terlihat tanda-tanda telah sampai pada titik pencapaiannya...'

 

Lelaki itu membuka obrolan siangnya di meja makan bersama seseorang wanita bijak yang selama hidup dihormatinya, bersamaan dengan suapan pertamanya.

 

'Le....'

 

Ibu bijak itu mulai membuka suara setelah sejenak memperhatikan seperti tumpukan beban dan pengharapan kehidupan yang tampak menggandoli pundak lelaki didepannya.

 

'Mimpi; harapan dan kenyataan itu seperti ibaratnya telur dadar yang sekarang kita makan ini le....'

 

'Mimpi dan harapan kita boleh besar sebesarnya dicanangkan diawal, sama halnya telur dadar yang Ibu goreng ini yang tampak besar mengembang diawal....'

 

'Namun ada kalanya realitas dan kenyataan dari apa yang kita usahakan memberikan hasil yang lebih kecil dari yang kita harapkan, itu seperti halnya telur dadar yang sudah ada tersaji dipiring kita ini, lebih kecil realitasnya dari awal saat digoreng tadi yang besar mengembang...'


'Dan le.... pada titik inilah kamu harus bisa mensyukuri apapun hasil pencapaian itu.'

 

Tutur Ibu bijak yang tampak sudah banyak makan asam garam kehidupan itu, seraya memasukkan suapan pertamanya dalam mulutnya. Sementara didepannya, si lelaki mengangguk mengiyakan nasihat bijak yang meluncur dari mulut Ibu bijak itu.

 

'Kalaupun hasil yang kamu dapatkan dirasa belum sesuai, disebab oleh usahamu yang kurang maksimal, maka lipatgandakan lagi aksi dan usahamu itu, tambahkan adonan telur dadarmu menjadi dua atau tiga butir telur sehingga hasil telur dadarnya akan lebih baik lagi...'

 

Ibu bijak melanjutkan nasihatnya selepas menyelesaikan suapan pertamanya...

 

'Dan ketika hasil yang kita inginkan telah tercapai, pada saat itulah hendaknya dirimu bersabar, bersabar atas godaan-godaan keberhasilan yang mungkin akan terus menjumpaimu setelahnnya. Berhentilah memakan telur dadarmu ketika rasa kenyang itu dirasa, jangan terus kau makan telur dadar itu sehingga menjadikanmu mual memuntah, dan mulailah membaginya lebih besar lagi telur dadarmu kepada orang disekelilingmu yang mungkin lebih membutuhkannya.'

 

Ujar Ibu bijak itu sambil ngeloyor pergi mengambil minuman dingin dari kulkas rumahnya, seolah menanda menutup ujaran nasihatnya.

 

Demi mendapatkan nilai nasihat bijak yang sangat dalam itu, lelaki tadi sejenak merenung mencari pelajaran yang tersirat dan kemudian mengangguk mengiyakan nasihat bijak itu sambil sesekali menunduk menyelesaikan suapan terakhir dari hidangan telur dadar-nya.

 

 

---
Salam Semangat!!
@ludwinardi | WA/HP 085226149414
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: Internet

 


1 Komentar
image

Fri, 14 Nov 2014 @20:58

Nurul Amali Dienillah

hmm .. indahnya, suka sekali dengan perumpamaan sederhana Ibu bijak,sedang berada di tahapan telur dadar yang mengimpis soalnya XD , mksh artikelnya ka, bikin semangat :)


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+5+8

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari