Didalam Tiga Kegelapan

image

Lelaki itu tampak meninggalkan kaumnya dengan berjejak berupa seburat emosi.

 

Ya... lelaki itu pergi begitu saja dengan suasana hati marah dan raut muka yang tidak suka, Ia memutuskan sepihak untuk pergi meninggalkan kaumnya yang tidak pernah sekalipun mendengarkan peringatan-peringatannya. Bahkan ketika lelaki itu memperingati akan adanya azab yang turun menimpa kaumnya bila melanggar peringatannya, namun mereka kaumnya itu tidak pernah menggubrisnya.

 

Kepergian lelaki yang tidak menentu arah tujuan karena sebab marah kepada kaumnya itu telah membawanya sampai kepada sebuah pelabuhan yang menjadi tempat bersandarnya banyak kapal sebelum berlayar ketengah samudra. Ditengah hiruk pikuk keramaian suasana pelabuhan laut, lelaki itu berusaha untuk mendapat tumpangan kapal dalam niatannya berlari sejauh mungkin dari kaumnya yang tidak sekalipun peduli dengan peringatannya.

 

Usahanya mencapai hasil yang diharapkannya ketika sampai kepadanya izin tumpangan dari seorang kapten kapal yang memberikan ruang dalam kapal untuk ditempatinya.

 

Dan mulailah lelaki itu berpetualang mengarungi samudra bersama dengan kemarahannya kepada umat yang ditinggalkannya dibelakang.

 

Waktu terus berjalan bersama petualangan baru yang akan dialami lelaki itu ditengah samudra menuju tujuan berantah, sampai tibanya suatu waktu kapal yang ditumpanginya oleng diterjang ombang yang menggunung dan melontar kesana kemari kapal penuh muatan itu.

 

Terjangan ombak yang terus menerus menjadikan kapal tidak stabil dan dalam kondisi kritis nyaris karam ditengah samudra. Pada itulah sang kapten kapal bertitah untuk mengurangi muatan yang ada, namun entah kenapa muatan yang telah dikurangi sebelumnya belum dapat menjadikan keadaan lebih baik, sehingga diputuskan untuk tetap mengurangi muatan dengan juga mengorbankan penumpangnya yang ada.

 

Perdebatan memuncak demi memilih siapa penumpang yang harus dikorbankan untuk menyelamatkan kapal yang semakin kritis tersebut, sehingga disepakatinya cara yang dapat diterima semua pihak.

 

"Biarkan Tuhan Sang Pencipta Ombak dan Lautanlah yang berhak menentukan siapa diantaranya yang layak dikorbankan untuk menyelamatkan kapal dan seisinya"... demikian kiranya setiap penumpang membathin.

 

Kemudian dipilihlah penumpang yang akan dikorbankan untuk mengurangi muatan dengan sistem undi. Satu kali; dua kali dan tiga kali undian dilakukan, namun apa nyana, dari ketiga pengundian hanya nama lelaki itu yang muncul berulang, hingga semua menyadari bahwa itu adalah sebentuk ketetapan Sang Maha Kuasa.

 

Apakah hasil undian menjadi akhir dari kisah petualangan lelaki itu? Tiada yang mengetahui selain Sang Maha Mengetahui.

 

Akhirnya terjunlah sang lelaki ketengah samudra yang tiada berbatas kedalamannya itu... jeburrr...

 

Ketika tubuh lelaki tersebut mulai dibasahi air samudra dan terus meluncur deras ke dalam lautan, sekonyong-koyong datanglah seekor ikan besar sejenis Paus yang menyambut tubuh lelaki itu dengan nganga mulutnya yang besar dan dalam posisi siap menelan setiap apapun yang ada didepannya.

 

Habis sudah tubuh sang lelaki menghilang dalam sekali caplokan dari mulut ikan yang sedemikian besar yang muncul secara tetiba itu. Namu hanya atas berkat kuasa-Nya, tubuh lelaki itu dibuat utuh dan dalam kondisi dibiarkan hidup didalam perut sang ikan...

 

Jalan petualangan lelaki itupun kembali terbuka, dan kali ini mengambil setting lokasi didalam perut ikan besar yang gelap, didasar laut tak berujung dan tak bercahaya serta dalam naungan gulitanya sang malam. Ya... itulah saat dimana sang lelaki terpenjara didalam tiga kegelapan yang melingkupinya, tiada daya usaha apa selain menangis; menyadari kesalahannya dan menerima teguran ini dengan lapang serta sepenuhnya berserah diri sampai adanya ketetapan baginya.

 

Mulailah mulutnya bergumam merintih pada Sang Kuasa demi mengakui kekeliruan meninggalkan umatnya di belakang, bertasbih didalam tiga kegelapan yang membersamainya memohon dan berharap pertolongan-Nya semata.

 

"Tiada Tuhan selain Engkau ya Allah. Wahai Yang Maha Suci. Sesungguhnya aku termasuk orang yang menganiaya diri sendiri." (QS. Hud: 87)

 

Sedemikian itu terucap dari lisannya yang kelu, berulang-ulang kali sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ketetapan baginya dengan mendamparkan tubuh lelaki itu disebuah daratan dengan dikelilingi pohon berjenis labu dimana Ia dapat berteduh dengannya dan makan darinya, sampai kemudian Ia tersadar dan kembali menuju kaumnya yang ternyata juga telah bertaubat sepeninggalnya.

 

-----

 

Mentemen sekalian...

Kisah petualangan yang luar biasa dari seorang hamba Allah yang mulia bernama Yunus Bin Mata ini memberikan kepada kita banyak hikmah dan pelajaran untuk dapat kita tauladani bersama, sebuah mutiara hikmah dari potongan sejarah para pendahulu yang sangat sayang untuk kita abaikan.

 

Nabi Yunus adalah salah seorang hamba yang mendapatkan pujian langsung dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, seperti terekam dalam kitab suci Al Qur'an:

 

“Dan Ismail, Alyasa’, Yunus, dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS. Al An’aam: 86)

 

Bahwa permasalahan yang dihadapi Nabi Yunus disebab oleh ketidakpedulian umatnya seumpana kita dengan permasalahan dalam kehidupan kita sesehari. Dan pada saat itu kita dituntut untuk tidak lari menghindari permasalahan kita, namun sebaliknya harus kita hadapi dan dicarikan solusi jalan keluarnya.

 

Dan bilamana segala daya upaya maksimal kita dalam usaha memecahkan permasalahan kita telah sampai pada ujung jalan yang buntu tanpa solusi, pada saat itulah kita mulai berserah diri sepenuhnya kepada Allah Sang Kuasa dalam lirih do'a-do'a kita, merendah dihadapan-Nya pada memalam syahdu sampai Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan ketetapan dan solusi bagi permasalahan yang kita hadapi melalui jalan yang mungkin tidak kita sesangka datangnya.

 

Selanjutnya kita perhatikan seorang Yunus Bin Mata mengajarkan kepada kita semua bagaimana seharusnya adab doa permintaan kita kepada Sang Khalik dalam setiap permasalahan kita. Doa yang dimulakan dengan pengagungan asma Sang Khalik dan diteruskan dengan merendahkan diri sebagai pengakuan atas kesalahan dan dosanya, doa Nabi Yunus tidak spesifik meminta karena Beliau yakin seyakinnya bahwa Tuhannya adalah Yang Maha Mengetahui permasalahan yang dihadapi dan solusi atasnya.

 

Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala memberikan solusi jalan keluar yang terbaik bagi setiap masalah yang kita dan bangsa kita hadapi sekarang dan kelak kedepannya... Aamin YRA

 

 

 

---
Salam Semangat!!
@ludwinardi
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: internet


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+0+0

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors