Made in China

image

 

Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menyaksikan beberapa buah film bersetting sejarah dan legenda yang diceritakan secara turun temurun dalam sebuah masyarakat.

 

Film-film tersebut mengangkat tema besar sebuah kesetiaan dan pengorbanan yang diramu secara apik dengan intrik penghianatan dan keserakahan dalam latar sebuah peradaban yang beberapa abad lalu pernah mencapai titik kejayaannya (mungkin pada kesempatan lain akan coba saya kulik secara detail film inspiratif dan menggugah tersebut).

 

Dan peradaban yang saya maksudkan diatas, tidak lain ialah Peradaban China (Tiongkok)...

 

Masyarakat Tiongkok patut berbangga dan percaya diri hari ini, karena mereka memiliki kebudayaan yang tinggi dan sejarah besar yang pernah turut mewarnai panggung sejarah peradaban dunia di masa lalu.

 

Rasa bangga itu paling tidak tampak terlihat salah satunya dari film-film yang mereka angkat dengan latar sejarah dan kebudayaan mereka sendiri, sebuah fenomena yang jarang saya temui dalam film-film produksi barat (Hollywood) yang menampilkan tema sebangun namun lebih banyak menonjolkan epik percintaan didalamnya.

 

Dan kepercayaan diri sebagai sebuah bangsa yang kemudian mewarisi kebudayaan dan peradaban yang tinggi itu tampak juga dengan performance Tiongkok dalam percaturan dunia pada era sekarang ini.

 

Perekonomian Tiongkok merupakan salah satu yang tercepat melesat dan bertumbuh, bahkan analis memprediksi bahwa perekonomian Tiongkok tidak lama lagi akan dapat menggantikan posisi Amerika Serikat sebagai negara dengan perekonomian terbesar di dunia, suatu hal yang tidak mustahil bila ditinjau dari daya dukung yang dimiliki oleh Tiongkok.

 

Awal kehebatan ekonomi China hari ini dimulai oleh usaha merombak total ekonomi China yang dilakukan ketika pemerintah Sosialis Komunis memenangi revolusi pada 1949.

 

Dibawah kendali Mao Zedong dan Zhou Enlai yang berkuasa saat itu, China mencanangkan program The Great Leap Forward (Lompatan Besar ke Depan) pada 1958, dengan harapan China akan menjadi negara industri maju dalam waktu singkat. Titik beratnya adalah pembangunan ekonomi yang berfokus pada industri mesin dan baja.

 

Namun kepemimpinan sosial komunis yang berpola diktator dan represif dalam menjalankan roda pemerintahan menyebabkan banyak menimbulkan korban berjatuhan dari rakyat sipil. Rakyat China yang tidak setuju program The Great Leap Forward ini dihukum mati. Menurut Dali Yang dalam bukunya Calamity and Reform in China, pada 1958 setidaknya 550.000 orang dieksekusi karena alasan ketidaksetujuan tersebut.

 

Puncak dari program tersebut adalah ketika pada tahun 1959 terjadi wabah kelaparan di China, sebuah tragedi kemanusiaan yang terparah dalam sejarah dunia. The Great Leap Forward berujung bencana kelaparan terbesar–The Great Leap Famine, sehingga akhirnya mimpi program The Great Leap Forward terkubur bersamaan dengan meninggalnya Mao Zedong pada tahun 1976.

 

Usaha perbaikan ekonomi China berlanjut pada era Deng Xiaoping pada tahun 1979, program reformasi ekonomi yang digagas Deng dimulai dengan meletakkan dasar bagi sistem ekonomi yang memungkinkan pasar bebas dan industri kecil di pedesaan berkembang pesat di seluruh negeri.

 

Pada masanya, Deng berupaya meyakinkan seluruh China bahwa sosialisme dan ekonomi pasar bukan dua hal yang bertentangan. Suatu hari dia bahkan pernah berkata bahwa “saripati dari sosialisme yang sesungguhnya adalah pembebasan dan pembangunan sistem produksi”. Deng menyebut program reformasinya sebagai gaige kaifang –reformasi dan membuka diri.

 

Program yang digagas Deng membuka peluang kran investasi asing di China, sehingga dana segar yang dibutuhkan untuk membangun infrastruktur dengan mudahnya mengucur masuk ke wilayah China. Selain itu, sentralisasi pertanian dihapuskan dan pemerintah memberi keleluasaan bagi perkembangan industri swasta.

 

Pada era kekuasaan Deng Xiaoping inilah titik balik dari kedigdayaan perekonomian China bermula, dan buah keberhasilan program Deng itulah yang kemudian dapat dinikmati oleh masyarakat Tiongkok hari ini. Dengan segala modal yang dimilikinya saat ini, ekonomi China melesat jauh menuju puncaknya.

 

Rekan saya disalah satu milis menjadi saksi bagaimana infrastruktur di China dibangun dan dikelola guna menunjang perkembangan industrinya, jalan-jalan dibuat halus dan besar sehingga memudahkan mobilisasi barang-barang dari dan menuju pusat industri di China.

 

Ketika kita berbangga dengan keberadaan Jembatan Suramadu, di China jembatan dengan setipikal Suramadu itu dibangun dibanyak tempat guna menghubungkan wilayah China daratan yang kaya akan sungai yang membelah wilayahnya.

 

Iklim investasipun dibuat sedemikian rupa dengan aturan yang sangat ketat sehingga para peminat investasi di China tidak sembarangan untuk dapat pergi begitu saja setelah mendapatkan banyak keuntungan di China, aturan tersebut juga menjaga dan melindungi betul investasi lokal yang sedang tumbuh berkembang. Dengan potensi pasar yang sedimikian besar, maka tak heran Tiongkok berani melarang masuknya Facebook dan Google ke dalam wilayahnya.

 

Ketika saya dapati oleh-oleh dari salah satu famili saya yang pulang ke Indonesia setelah plesiran ke daratan Eropa, saya dibuat kaget dengan barang yang menjadi buah tangannya yang berlabel 'Made In China'. Ternyata banjir barang Made In China tidak hanya melanda Indonesia, namun sudah menjamah belahan Eropa dan mungkin belahan dunia lainnya.

 

Bagaimana dengan manusianya hari ini??

 

Dengan kemajuan di Tiongkok sekarang ini yang sedemikian pesatnya, tidak lantas kemudian menjadikan manusianya menjadi malas dan bersantai leha ria, justru kondisi tersebut menjadikan kehidupan di China keras dan penuh perjuangan.

 

Ada kisah menarik dari rombongan delegasi Tiongkok yang berkesempatan berkunjung ke Indonesia. Rombongan delegasi Tiongkok sangat heran demi melihat masyarakat Indonesia yang begitu santainya menjalani kehidupan, sementara di China mereka harus berjibaku dan bekerja keras menghidupi kehidupannya. Dalam kondisi seperti itulah mental manusia Tiongkok sekarang ini dibentuk dan dipatri.

Dan yang mencengangkan adalah bagaimana hari ini Tiongkok mempersiapkan generasi-generasinya kelak. Adik saya yang baru selesai merampungkan studinya di Inggris menyaksikan bahwa hampir 80% mahasiswa di fakultas bisnis dikampusnya di distrik Manchester dipenuhsesaki oleh mahasiswa yang berasal dari China daratan atau Tiongkok sekarang ini.   

 

Sungguh dahsyat luar biasa bukan...
Dari sebab itu kita dapat memahami bahwa hari ini Tiongkok sedang mempersiapkan kebangkitan peradabannya yang dahulu pernah jaya.

 

Dan bukan mustahil prediksi para futurolog bahwa kebangkitan peradaban baru akan muncul di Timur untuk menggantikan peradaban Barat yang sekarang dalam masa kejayaannya.

 

Namun apakah itu bermula dari Tiongkok??
Mungkin hanya ketetapan Sang Kuasa dan bergulirnya waktu yang nanti akan dapat menjawabnya...

 

 

---
Salam Semangat!!
@ludwinardi | WA/HP 085226149414
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: internet


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 1+9+4