Teh Celup

image


Musim telah berganti...

 

Dari sebelumnya siang tampak biasa terasa terik dan panas, menjadi begitu sejuk dan berawan bilamana tidak turun hujan. Pun seandainya berasa panas namun tidak sepanas beberapa waktu lalu, panasnya cuaca musim kali ini disiang hari dibarengi dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi.

 

Begitulah kiranya suasana siang itu, teduh berawan dengan sedikit semiliran hembusan angin.

 

Berjarak diatas sana langit yang mendung tampak berhias oleh segerombolan awan dengan air yang menggantung diujungnya, menanda bahwa hujan siap menyirami bumi.

 

*****

 

"Kami berdua berbeda pendapat lagi Bu...."

 

Lelaki itu membuka dialog di siang memendung dalam ruang makan sebuah rumah yang tampak sederhana namun asri itu, sambil memandang seorang wanita yang biasa dipanggilnya dengan sebutan 'ibu' berlalu didepannya menuju dapur.

 

"Kenapa le...?"
"Masalah apa lagi yang kalian berdua hadapi sehingga membuatmu risau tak menentu kali ini..?"

 

Telisik Si Ibu sekembalinya dari dapur menuju meja makan persegi dimana pria itu duduk dengan membawa hidangan telur dadar dikanannya dan teh manis hangat ditangan kirinya.

 

"Iya Bu.... sebenarnya kami berdua bersilang pendapat mengenai hal-hal sepele dalam rumah tangga kami, dan seharusnya bisa terselesaikan segera kalau saja tidak diikuti oleh tangis air matanya yang akhirnya mengacaukan segalanya..."

 

"Huh... sebal aku jadinya...!!!"
"
Kenapa mesti dengan air mata sih??? lemah dan lembek sekali tabiatnya!!!"

 


Cerocos pria itu menumpahkan kesalnya, sambil tangan kanannya mulai mengaduk teh celup hangat manis dan menyeruputnya selepas menyuap telur dadar yang terhidang di meja persegi itu.

 

Sementara cuaca diluar semakin gelap dan rintik gerimis air hujan mulai tumpah ruah jatuh membasahnyirami bumi, dengan sesekali terdengar suara halilintar saut menyaut.

 

Zelegerrrr!!!!!

 

Wajah Sang Ibu tampak serius memperhatikan tingkah polah lelaki dimukanya seraya seperti menahan ketidaksetujuannya atas ucapan terakhir lelaki itu.

 

"Le... istrimu itu tidak selemah yang kau kira le... tidak juga ia lembek..."

 

Sang Ibu membuka suara sambil tangannya mencelap-celup kantung teh didalam cangkir berair panas dan menyeruput adukan teh tak berasa itu, sementara gerimis diluar semakin menderu.

 

"Para wanita, termasuk istrimu itu, ibarat seperti halnya kantung teh celup ini le..." Ibu bijak itu memulai wejangannya kepada lelaki didepannya.

 

"Dari luar ia memang tampak ringkih dan mudah tersobek, tapi kamu perhatikan bagaimana kuatnya ia ketika tercelup kedalam air panas yang baru saja mendidih, ia tetap kuat dan bertahan le.... bahkan tidak saja kuat dan bertahan, ia turut memberi warna air panas didalam cangkirmu itu le..."

 

"Dibalik airmatanya, istrimu itu menyimpan kekuatan besar untuk turut membantu membentengi rumah tanggamu..."

 

"Dibalik tangisnya, istrimulah yang mewarnai anak-anakmu dengan akhlak mulia sehingga kelak menjadi bekal mereka di kemudian hari..."

 

"Dibalik tampak lemah dan lembeknya, istrimulah yang memiliki daya tak terhingga untuk kuat bertahan dan memberi warna bagi hidup dan kehidupanmu"

 

Kalimat wejangan dan pengingat itu begitu derasnya menderu keluar dari mulut ibu bijak itu menyasar kepada lelaki yang terpaku dalam diam didepannya, nasehat yang deras sederas hujan yang meruah diluar rumah sederhana itu.

 

"Seperti itulah tabiat para wanita, termasuk istrimu, yang ibu pahami selama ini le.... jangan sekali-kali kamu remehkan istrimu itu, pahami dan hargailah Dia"

 

Begitulah Ibu bijak itu menutup nasehat wejangannya, sementara lelaki dihadapannya mengangguk menyerap setiap kalimat nasihat penuh makna itu sambil sesekali mencelap-celupi kantung teh celup serta menyeruputi teh manis hangat yang tersaji di meja.

 

*****


Sekonyong-konyong cuaca diluarpun mereda, awan gelap berangsur tertiup angin dan langit berlahan tampak mencerah.

 

 

×××
PS:
Teruntuk para ibu; para istri dan para wanita Indonesia yang luar biasa....

Rasanya tak perlu lagi menunggu kesempatan tanggal 22 Desember setiap tahunnya untuk berucap bahwa kalianlah tulang punggung penyebab tegaknya tiang kebanggaan itu...

Karena kehebatan kalian akan selalu tampak hadir disetiap pergantian hari sepanjang jaman...

 

 

-----
Salam Semangat!!!
@ludwinardi
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi: Internet


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 6+4+4

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari