Pak Dadi

image


Saya yakin seyakin-yakinnya kalau mentemen sekalian pernah mendapati situasi yang pernah saya lalui waktu lalu, kondisi terdesak dimana saya harus memilih satu diantara dua pilihan yang keduanya menurut saya waktu itu tidak ada bagusnya.

 

Tapi karena kondisi waktu itu menuntut saya untuk harus tetap memilih antara 'ya' untuk dilaksanakan atau 'tidak' untuk tidak dilaksanakan, maka keputusan harus saya buat untuk memilih satu diantaranya.

 

Jadi pada waktu yang mepet lagi singkat waktu itu saya harus memutuskan untuk tetap melaksanakan renovasi rumah atau menunda bahkan tidak melakukan renovasi dengan pertimbangan pilihan tukang yang tersedia apa adanya.

 

Bila saya memilih tetap melaksanakan renovasi, maka mau tak mau saya terpaksa menggunakan jasa seorang tukang yang sudah cukup sepuh lagi berumur yang sedang berdiri dihadapan saya waktu itu. Memang tukang itu tampak tinggi besar penampakannya, namun terlihat agak bungkuk rapuh tidak kokoh seperti termakan usia.

 

Namun bila saya memilih tidak mengindahkan tawaran yang ada, maka saya akan terjebak pada situasi ketidakpastian lagi seperti sebelumnya, dimana waktu terbuang percuma hanya untuk mencari jasa tukang lainnya yang pastinya akan sulit mencarinya.

 

Begitulah...

 

Akhirnya saya putuskan untuk tetap melaksanakan rangkaian pelaksanaan renovasi rumah tersebut dengan segala konsekwensi yang ada, dengan bersepakat dengan tukang bangunan sepuh dihadapan saya ini.

 

-----

 

Datanglah pagi itu Pak Dadi, seorang tukang bangunan tua berpostur tinggi besar dengan guratan zaman diwajahnya bersama dua rekannya yang tampak lebih muda. Awalnya obrolan kami biasa dan sewajarnya sebelum memulai pekerjaan renovasi rumah, sampai pada pernyataan Pak Dadi:

 

"Pak.... Tapi biasanya saya mengakhiri pekerjaan saya sekira jam 4 sore loh pak..."

 

Begitu ucapnya dengan enteng dihadapan saya yang langsung melongo demi mendengar permintaan yang tidak umum dari seorang pekerja bangunan yang biasanya selesai pukul lima sore setiap harinya.

 

Kecurigesyen saya ketika pertama kali bertemu Pak Dadi sebelumnya seperti mendapati jawabannya dengan permintaan menohok itu. Dan selang setelahnya bertubi datanglah pikiran negatif saya bahwa: pekerjaan ini bakalan molor selesainya; biaya bakalan membengkak; tukang ini bakalan banyak maunya dst dst....

 

Namun nasi sudah menjadi bubur...

 

Saya sudah kadung bersepakat diawal tanpa mendetailkan poin-poin kesepakatan saya dengan Pak Dadi, seperti jam kerja itu. Saya harus tetap menelan itu semua walaupun nantinya akan berasa pahit.

 

Ahh sudahlah...
Bismillah dan pasrah saja saya, sambil berlalu menuju rutinitas...

 

-----

 

Hari kedua keesokan harinya sekira antara pukul enam dan setengah tujuh, ketika kami sekeluarga dibuai dengan segala pernik kesibukan pagi masing-masing, tak biasanya, gerbang rumah kami didatangi tamu yang ternyata adalah seseorang yang baru saya kenal 1 - 2 hari lalu.

 

Yaa....
Seseorang tamu di pagi itu adalah Pak Dadi...

 

"Kok pagi amat Pak Dadi?" Selidik saya dalam keheranan...

 

"Lah... Saya kan kemarin minta pulang jam empat Pak Lud, jadi ya harus tau diri to Pak... Mosok sudah minta pulang cepet tapi mulai kerjanya seperti kebanyakan umumnya jam lapanan." Jelasnya dalam kental logat jawa pesisir bagian selatan.

 

"Oohhhh..." Balas saya sekenanya sambil lalu dalam keterburuan menjelang beraktivitas.

 

Dan belakangan saya ketahui bahwa permintaan Pak Dadi untuk pulang cepat itu tidak lain adalah dalam upayanya untuk mengejar sholat ashar dirumahnya...

 

Sebuah penjelasan dan alasan yang makjleb menohok rasa malu saya karena sempat berprasangka yang tidak baik kepada Pak Dadi...

 

-----

 

Di lain waktu ketika berkesempatan mengawasi secara penuh pekerjaan Pak Dadi dan saya menyaksikan Pak Dadi seperti seorang muda usia bertubuh besar dan bertenaga yang bekerja tiada kenal lelah, bahkan rekannya yang jauh lebih muda seperti kewalahan mengikuti ritme kerja Pak Dadi.

 

Naik turun loteng; gergaji sana gergaji sini; memberi komando dan begitu seterusnya...

 

Belum lagi hasil kerjanya yang cukup detail dan rapih...

Luar biasa takjub saya dibuatnya...

 

Lagi-lagi menohok rasa malu saya karena sempat kembali berpikiran betapa lemahnya tukang bangunan itu dengan penampakannya yang sudah lamur dimakan umur...

 

-----

 

Ahhhh....

 

Sebuah pelajaran nan berharga bagaimana kita kemudian seharusnya bisa bersikap adil kepada seseorang dengan tidak melulu mempertimbangkan bagian casing terluarnya....

 

Semoga kita semua mendapatkan pelajaran...

 

 

-----
Salam Terbaik!!
@ludwinardi
http://ludwinardi.com

 

#ilustrasi:internet


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 2+2+9

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari