Sang Pendakwah

image

Pemuda itu seperti memiliki segala apapun yang dibutuhkan untuk menjadi idola dijamannya. 

 

Wajahnya tampak tidak terlalu jelek untuk dibilang tampan. Sehingga dikemudian hari Ia menjadi suami dari seorang gadis cantik lagi sholehah. Wanita yang merupakan keturunan langsung dari salah seorang nabi yang alim dan tawadhu. 

 

Dengan tampilan fisik yang juga macho untuk istilah saat ini, lelaki itu sungguh tampak kuat dan tangguh untuk bisa dikatakan sebagai jagoan. Tinggi besar dan kokoh untuk dapat digelari sebagai pendekar dikalangan masyarakatnya. Tak heran ketika Ia, dengan hanya sekali pukul, dapat menghempaskan lawan tandingnya mati seketika tersurung oleh kepalan tinjunya. 

 

Dan ternyata orang yang kita bicarakan ini juga memiliki hati yang lembut selaksa salju terhadap sesamanya. Suka menolong walaupun dirinya sendiri sedang diliputi segala kesusahan. Kita lihat bagaimana dirinya kemudian tidak sampai hati untuk tidak menolong dua wanita yang tampak kesulitan menimba air. Padahal saat itu Ia dalam masa pelariannya. Lelaki itu ditengah kesulitannya sendiri didalam kejaran sepasukan orang yang sedang mencari dan menuntut balas darinya. 

 

Mungkin segala kelebihan itulah yang kemudian menjadikannya sebagai manusia pilihan Allah SWT, Tuhannya, untuk menggelarinya sebagai salah seorang nabi penyampai risalah-Nya. 

 

Tapi diatas segala kelebihan itu, ternyata pemuda ini memiliki satu-satunya kekurangan. Ya, lelaki ini adalah seorang yang cadel. Kemampuan untuk berbicaranya tidak sesempurna orang lain pada umumnya. Namun lembaran sejarah kemudian jelas menorehkan tinta emas tentang bagaimana kemudian usahanya untuk berdakwah menyampaikan pesan ketauhidan itu sampai kepada penguasa kuat dan lalim dimasanya, Firaun laknatuLlah. 

 

Kisah Nabi Musa ini memberikan pengajaran kepada kita bahwa kekurangan tidak lantas menjadikan kita jauh untuk menyampaikan dakwah dan pesan-pesan risalah kita kepada keluarga dan lingkungan sekitar kita, dengan apapun media dan usahanya. 

 

****** 

 

Penamsilan kisah Nabiyullah Musa diatas dirasakan saat ini oleh komunitas muslim Indonesia di Amerika pada umumnya dan area DMV (DC, Maryland, & Virginia) khususnya. Bagaimana mereka harus menyampaikan dan meluruskan pesan ketauhidan yang disalahtafsrikan oleh komunitas masyarakat Amerika. Dan tantangan terbesar mereka adalah bagaimana mereka dapat mendakwahkan risalah ini kepada anak-anaknya yang lahir dan besar ditengah-tengah komunitas masyarakat Amerika yang dirasa cukup jauh dari nilai-nilai religi.   

 

Dan tembok tinggi yang menghalangi komunitas muslim Indonesia atas kedua tantangan itu adalah kendala bahasa. Yaa, kita mahfum bahwa bahasa Inggris bukan merupakan bahasa ibu bagi komunitas ini.  

 

Untuk menjawab segala tantangan ini, pada Jum'at pekan lalu IMAAM Centre bersama IAA (Indonesia America Association) melaunching program bertajuk Toastmaster-English For Dakwah (TM-EFD). Bahkan menurut informasi, IMAAM Centre sendiri sebelumnya telah memiliki program kursus Bahasa Indonesia yang ditargetkan khusus bagi para generasi penerus komunitas ini.

 

Semoga program TM-EFD yang di jalankan di IMAAM Centre ini menjadi salah satu solusi bagi komunitas muslim Indonesia di area DMV ini untuk menjawab tantangan yang ada. Pun semoga nantinya akan dapat melahirkan Musa-Musa baru yang akan menyampaikan pesan risalah ini kepada komunitas masyarakat Amerika dan khususnya kepada anak-anaknya yang akan menjadi generasi penerus estafet dakwah di Amerika.     

 

 

---

Salam Terbaik,
@ludwinardi
http://ludwinardi.com

 

#Ilustrasi: TM-EFD WAG


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 4+3+4

SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors