EGALITER LEADER

image

 

Adalah Gordon Bethune, sebelum didapuk menjadi pemimpin tertinggi di Continental, adalah seorang pensiunan pilot di korps militer US yang kemudian bergelut di dunia penerbangan. Bethune menduduki level manajer di berbagai perusahaan penerbangan berskala medium dan berskala besar semisal Boeing.
.
Continental Airlines adalah perusahaan penerbangan komersial yang mengudara di empat benua. Beroperasi sejak tahun 1937. Pada era tahun 1980 - 1990 merupakan masa terpuruk bagi Continental, dimana dilekatkan padanya predikat maskapi penerbangan komersial terburuk sepanjang sejarah Amerika.
.
Pada awal tahun 1990, kondisi Continental sampai pada titik nadir terdalamnya. Suasana kerja sangat tidak nyaman, tidak ada nuansa saling percaya diantara pegawai secara vertikal dan horisontal. “It was a crummy place to work.” Begitu gambaran Bethune mengenai perusahaan barunya kala itu.
.
Setali tiga uang dengan kondisi cashflownya yang berdarah-darah. Ketika Bethune mengambil alih kendali kepemimpinan ditahun 1994, perusahaan digelayuti oleh kerugian yang mencapai 600 juta USD. Dalam kurun waktu 8 tahun, Continental dua kali dinyatakan bangkrut oleh pengadilan perdata US dan hampir dinyatakan bangkrut ketiga kalinya ditahun 1994.
.
Kondisi internal suasana kerja dan keuangan berdampak serius pada performance Continental di mata para pelanggannya. Pelayanan konsumen menjadi begitu terbengkalai, perusahaan menempati posisi buncit dalam setiap survey pengukuran performance industri penerbangan komersial di Amerika. Continental Airlines yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia penerbangan berada diujung tanduk kehancurannya.
.
Namun kondisi tersebut tidak menyurutkan semangat juang Bethune untuk membalikkan keadaan. “I could see Continental’s biggest problem the second I walked in the door in February 1994,” ujarnya optimis seperti terekam dalam buku “From Worst to First” karyanya sendiri.
.
Salah satu problem yang Bethune dapati di lingkaran manajemen Continental adalah kultur tertutup di top level manajemen. Frank Lorenzo, CEO Continental sebelum digantikan oleh Bethune menutup semua akses informasi pada level manajer dari jangkauan para karyawannya.
.
Lorenzo menciptakan jurang pemisah antara atasan dan bawahannya. Ia menyekat struktur organisasi perusahaan dengan sangat kakunya. Bahkan kantornya di lantai 20 kantor pusat Continental di Texas tertutup tidak bisa diakses oleh siapapun kecuali mereka pada level top manajemen. Tampak jelas bahwa Lorenzo membangun kultur ketidakpercayaan didalam Continental, hatta dengan karyawannya sendiri.
.
Bethune mulai berbenah sejak pertama kali masuk dalam lingkaran inti perusahaan. Dan fokus pertamanya tidak lain adalah memperbaiki moral para karyawannya sebagai etalase perusahaan. Ia berusaha merubah kultur perusahaan dan menciptakan suasana nyaman bagi para karyawannya dalam bekerja.
.
CEO baru diperusahaan itu memulainya dari lingkaran teratas perusahaan, Bethune memulainya dari dirinya sebagai seorang CEO. Ia mulai menerapkan manajemen terbuka bagi karyawannya. Kebijakan baru ini menjadikan keterbukaan akses informasi bagi karyawan pada setiap level top manajemen, bahkan kebebasan akses menuju Gordon Bethune sendiri secara personal di lantai 20 ruang kantornya.
.
Tidak menjadi aneh ketika tiba-tiba Sang CEO baru itu muncul ditengah kesibukan karyawannya untuk sekedar menyapa dan bahkan membantu karyawannya di front office. “From now on, this was a family and everyone had to work together,” begitu harapan Bethune.
.
Kebijakan “open-door policy” dan kebijakan lain yang menyasar internal karyawannya seperti insentif dan lainnya berhasil mengangkat moral karyawan perusahaan. Perubahan kultur ini yang kemudian mendorong perlakuan yang lebih baik kepada konsumen pelanggan Continental. Dengan kondisi internal yang sedemikian kondusif, mudah bagi Bethune untuk kemudian menerapkan program yang menyasar kepuasan pelanggannya.
.
Sebagai seorang “egaliter leader,” Bethune tidak serta merta fokus pada konsumennya, namun lebih memprioritaskan pada internal organisasinya. Ia lebih mengedepankan keadaan karyawannya terlebih dahulu dalam rangka mencari solusi carut marutnya performance Continental.
.
Benar saja, tidak sampai kurun waktu dua tahun, perusahaan berhasil membukukan pendapatan sebesar 250 juta USD dan berhasil memperbaiki performance menjadi salah satu perusahaan penerbangan terbaik di daratan Amerika. Success story kepemimpinan Gordon Bethune memanajemeni Continental Airlines kemudian menjadi pembelajaran pada dekade setelahnya.
.
.
Salam Terbaik,
@ludwinardi


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari