COMFORT ZONE

image

 

Mungkin banyak dari mentemen sekalian yang pernah mengalami bagaimana rasanya terlempar dari comfort zone-nya. Saya pernah. Dan Saya harus jujur bahwa sangat terasa sakit  dan perih rasanya. Entah membutuhkan berapa lama waktu bagi mentemen untuk memulihkan rasa itu. Kalau Saya sendiri membutuhkan waktu kurang lebih satu tahunan untuk kemudian kembali pulih dan segera “move on.” Walau terkadang “rasa” sakit dan perih itu kerap kali muncul sesaat demi sesaat.
.
Comfort zone atau zona kenyamanan adalah saat dimana kita merasa nyaman dan damai didalamnya. Tidak merasa terganggu dengan hal-hal lain diluarnya. Melakukan segala rutinitas dengan bahagia. Walaupun rutinitas itu tampak membosankan, kita merasa senang saja melakukannya. Pokoknya zona nyaman itu laiknya surga dunia bagi siapapun yang mendapatkannya deh!
.
Dan ketika kita terlempar dari itu semua, seketika tercerabut segala kenyamanan itu.... Boooomm.... Sakit dan perih rasanya, serta merta berharap ingin segera kembali ke zona nyaman kita itu.
.
Bagi seorang muslim, sebenarnya Ramadhan merupakan latihan kita untuk segera menanggulangi rasa sakit saat terlemparnya kita dari zona nyaman kita. Ramadhan, dalam makna lain, seperti pemutus segala kenyamanan rutinitas kita sepatu-harinya. Ia seperti mencabut sementara kenikmatan kita beraktivitas. Jam demi jam setiap harinya. 
.
Bayangkan saja. Ketika sebelumnya segala rutinitas kita terasa nyaman dilaksanakan, di waktu Ramadhan segalanya berubah. Jika biasanya selepas Isya kita bisa melakukan aktivitas kita bersama keluarga dirumah, saat Ramadhan berubah ketika kita disunnahkan mengerjakan sholat taraweh.
.
Ramadhan juga merubah zona kenyamanan kita di rutinitas waktu tidur dan waktu makan. Sebelumnya kita biasa dengan waktu tidur malam selama 8 jam setiap harinya. Ketika masuk Ramadhan kita seperti dipaksa untuk tidur malam selama 4-6 jam setiap malamnya. Tidur diakhir malam untuk mengerjakan taraweh, tilawah dan lainnya. Dan harus bangun dini hari untuk tahajud dilanjut sahur dan sholat shubuh.
.
Sama halnya dengan waktu makan kita. Dari sebelumnya 3 sampai 4 kali makan plus camilan sehari-harinya. Di Bulan Ramadhan, kita hanya dibolehkan makan 2 kali saat sahur dan buka serta ketidakleluasaan mengemil. Ramadhan juga membatasi segala tingkah laku tindak tanduk kita disiangharinya. Kita dipaksa direm dari yang, mungkin, biasa menggunjing dan melakukan hal tidak bermanfaat lainnya.
.
Tapi apakah tercabutnya Comfort Zone tersebab Ramadhan membuat kita sakit dan perih? Jawabannya kembali ke singmasing kita. Tapi seyogyanya tidak demikian. Ramadhan merupakan kawah candradimuka umat muslim. Karena Ia melatih kita untuk terbiasa dengan perubahan cepat terhadap rutinitas kebiasaan yang menyamankan. Ramadhan tidak lantas menjadikan malas dan berleha-leha, sebaliknya menjadikan umat tetap produktif dan kontributif sekalipun tidak dalam zona nyamannya.
.
Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan 1439H/2018H, mohon maaf lahir bathin atas segala salah dan kekhilafan.
.
“Yaa Allah, serahkan diriku untuk Ramadhan, serahkan pula Ramadhan untukku dan terimalah Ia dariku dengan sepenuh pengabulan.”
.
.
Salam Terbaik,
@ludwinardi

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari
SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors