BENTENG TERAKHIR

image

 

Saifuddin Quthuz merupakan benteng terakhir umat Islam dari serangan biadab Kaum Tartar. Serangan membabi buta yang berangsur-angsur merangsek masuk ke jantung kota umat Islam. Membunuh tanpa ampun siapapun yang di temui, tua; muda; wanita; bahkan anak-anak yang tidak berdosa sekalipun.
Kota seribu satu malam, yang menjadi ikon peradaban ketika itu, jatuh ke tangan orang Tartar yang dipimpin oleh Hulagu Khan. Baghdad hancur luluh lantah. Tidak menyisakan apapun. Begitu juga kota-kota lainnya dibawah kekuasaan Islam.
Penduduk dibunuhi. Bangunan berikut isinya dibakar. Darah menggenangi seluruh sudut kota, sementara aliran sungai menjadi hitam akibat buku-buku yang dibuang ke sungai. Peradaban dan keilmuan agung yang dibangun sekian abad dimusnahkan hanya dalam sekejap mata.
Dalam kitabnya Al Kamil fi At-Thariq, Ibnu Katsir mengomentari peristiwa penaklukan Tartar terhadap peradaban Islam yang agung ini sebagai tragedi besar dalam sejarah kaum Muslimin. Musibah paling tragis dimana belum pernah terjadi satu peristiwa yang demikian ini sebelumnya. 
Dikala dunia Islam tidak lagi memiliki seorang Khilafah/pimpinan tertinggi, karena ikut terbunuh bersamaan dengan takluknya Kota Baghdad, diangkatlah Saifuddin Quthuz Al-Muizzi sebagai Sultan dari Negeri Mesir dengan bergelar Al-Malik Al-Muzhaffar. Pengangkatan ini dimaksudkan untuk menggelorakan semangat jihad kaum Muslimin mengusir Kaum Tartar yang biadab itu.
Selang beberapa lama tersiar kabar bahwa pasukan Tartar dengan pedang terhunus telah menyebrangi Sungai Eufrat menuju kota besar berikutnya, Damaskus. Al-Muzhaffar dan panglima perangnya yang bernama Ruknuddin Baybars Al-Bandaqadari memimpin pasukan Muslimin yang tersisa menjawab serangan orang Tartar.
Al-Muzhaffar bersama pasukannya tidak menunggu pasukan Tartar di Mesir, namun dengan sikap kesatria mereka keluar menuju Damaskus untuk menyongsong tentara Tartar dengan semangat jihad dan keberanian yang membara. Kedua pasukan bertemu di Ain Jalut dan terlibat pertempuran sengit pada Hari Jum’at tanggal 15 Ramadhan.
Pada akhirnya tentara Tartar kalah telak dalam pertempuran yang sangat monumental itu. Pasukan Tartar terbunuh dalam jumlah yang besar dan sebagiannya lari tunggang langgang meninggalkan arena pertempuran. Sultan Al-Muzhaffar memasuki Kota Damaskus sebagai seorang pemenang dan mendapatkan dukungan yang sedemikian besar dari rakyat. Sedangkan Panglima Baybars terus mengejar pasukan Tartar dan mengusir mereka keluar dari negerinya.
Saifuddin Quthuz yang kemudian menjelma sebagai Sultan Al-Malik Al-Muzhaffar menjadi sebab eksistensi peradaban Islam dari kebiadaban Kaum Tartar, Ia adalah benteng terakhir Islam dari kemungkinan kepunahannya.
.
.
Salam Terbaik!
@ludwinardi
.
.
Inpict: Patung Sultan Al-Malik Al-Muzhaffar (@internet)

 


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Tema Wadah Ide
Ide Teranyar
Filling Ide
Ide yang Dikomentari
SLINK

Komunitasku

Komunitas Blogger Bekasi

 

Visitors